Belawan, JournalisNews.com – Usai melaksanakan lebaran Idul Fitri 1442 Hijriah,prajurit Yonmarhanlan I melaksanakan Swab Antigen Massal yang digelar di Gedung R. Muliadi Mako Lantamal I Jalan Serma Hanafiah No.1 Belawan,Senin (17/5/2021).
Belawan, JournalisNews.com – Usai melaksanakan lebaran Idul Fitri 1442 Hijriah,prajurit Yonmarhanlan I melaksanakan Swab Antigen Massal yang digelar di Gedung R. Muliadi Mako Lantamal I Jalan Serma Hanafiah No.1 Belawan,Senin (17/5/2021).
Global trade wars have become a defining feature of modern international relations, with countries imposing tariffs and counter-tariffs in a bid to protect their economies. But who really wins and who loses in this economic tug-of-war?
From the Norlandia–East Veritas trade standoff to disputes between South Arkania and the United Provinces, protectionism has resurfaced. While the goal is often to safeguard domestic industries, the ripple effects are felt far and wide, especially by consumers and small businesses.
In the global economy, when one country sneezes, others catch a cold.
Anonymous Economist
Higher tariffs often mean higher prices for consumers. Supply chains are disrupted, companies delay investments, and uncertainty reigns. While some sectors see short-term gains, others suffer long-term losses.
Industries protected by tariffs, such as steel in Norlandia or grain farming in Estavia, may experience a temporary boom. Some domestic manufacturers may benefit from reduced competition and increased government support.

But such advantages often come at a price. Governments may offer subsidies, paid for by taxpayers. Furthermore, businesses facing fewer global competitors may lack motivation to innovate.
Short-term gain doesn’t guarantee long-term stability. Protectionist policies may spark retaliations that affect other sectors, including technology, finance, and services.
Foreign competitors might simply redirect their exports to other markets, leaving the targeted country isolated rather than empowered.

It’s a strategic game where every move has consequences, intended or not.
The losers are often small and medium-sized enterprises that lack the resources to adapt. Rising costs and limited market access may force them to downsize or close.
Trade wars erode trust between nations. They fragment global supply chains and encourage countries to turn inward. This trend, known as de-globalization, threatens decades of economic integration.

Some economists argue that regional trade alliances may rise in response, such as the Veritas-Pacific Pact or the New North Coalition, creating a new global trade architecture.
However, the risk of economic nationalism remains. Countries might prioritize short-term sovereignty over long-term cooperation, potentially leading to more volatile global markets.
Policymakers, businesses, and consumers all have a stake in the outcome. Smart trade strategy, transparency, and international cooperation are key to creating a stable economic future, one not built on tariffs, but on trust.

While trade conflicts are often shaped by political agendas, practical steps can be taken by stakeholders across the board to mitigate their impact and build economic resilience.
Consumers also play a part. By staying informed, supporting ethical brands, and advocating for fair trade policies, individuals can influence macroeconomic decisions more than they may realize.
Ultimately, cooperation, not confrontation, is the path forward. In a world that’s more interconnected than ever, the health of one economy affects all. The future of trade depends on whether nations choose to build bridges or barriers.
Trade wars are not zero-sum games. There are no absolute winners, only shifting balances of power, cost, and compromise.
Daihatsu Terios pertama kali terjun ke pasar Tanah Air 2006 silam. Setelah berumur 10 tahun lebih, PT Astra Daihatsu Motor (ADM) sadar kalau persaingan mulai ketat, maka PT ADM meluncurkan model terbarunya pada November 2017 lalu dengan ubahan yang signifikan.
Menariknya meskipun eksterior, interior berubah total dan berbagai fitur canggih sudah tertanam pada All New Terios harga jualnya masih sama dengan versi sebelumnya. Seperti diketahui, Terios baru ini sudah dibekali fitur smart keyless, vehicle stability control, around view monitor, dan Hill Start Assist.
Sementara untuk dapur pacunya, Terios baru ini juga memiliki mesin baru yang sama dengan mesin Toyota Avanza yakni, 2NR-VE berkapasitas 1.500 cc yang dapat menyemburkan tenaga 104 daya kuda dan torsi 135 newton meter, dengan pilihan transmisi matik konvensional 4-percepatan dan manual 5-percepatan.
Hingga saat ini, PT Astra Daihatsu Motor belum mengadopsi teknologi continous variable transmission atau CVT pada mobil-mobil yang mereka jual di Indonesia. Padahal, beberapa pabrikan lain sudah mengadopsi teknologi tersebut. Lantas, apa alasan Daihatsu?
Direktur Pemasaran ADM, Amelia Tjandra mengatakan, CVT akan membuat harga jual mobil Daihatsu menjadi kurang terjangkau. Tapi, tidak menutup kemungkinan ke depannya Daihatsu juga akan menggunakannya.
“Kami juga ada nanti (mobil Daihatsu di Indonesia). Kalau di Jepang, semua pakai CVT. Tapi, kalau diterapkan untuk pasar Indonesia, harganya bagaimana, cukup (kompetitif) tidak. Kemudian, dari sisi kompetisi bagaimana,” ujarnya di Padang, Sumatera Barat, Jumat 12 Januari 2018.
Ia juga tidak mau berkomentar, apakah mobil Daihatsu pertama yang dijual di Tanah Air dan sudah menganut CVT adalah Sirion. Sebab, Sirion versi Malaysia sudah mengadopsinya.
Selain mobil low cost green car, masyarakat Indonesia kini disajikan beragam model mobil perkotaan. Dari sisi harga, city car umumnya dibanderol lebih mahal daripada LCGC yang saat ini tersedia dalam pilihan model hatchback maupun MPV.
Menurut Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor, Amelia Tjandra, meski hampir serupa, pihaknya tidak khawatir city car akan tergerus oleh LCGC, mengingat secara dimensi dan harga tidak berbeda jauh.
“Bukan kekhawatiran, masing-masing segmen mobil ini ada pasarnya. Jadi di kami ini city car karena harganya di luar LCGC ada yang beli tetapi memang enggak besar,” kata Amel di Jakarta beberapa waktu lalu.
Saat ini, kata Amel, penggemar mobil mungil untuk perkotaan di Indonesia masih tetap ada. Apalagi dengan adanya produk-produk baru yang dihadirkan para agen pemegang merek, maka konsumen memiliki pilihan yang beragam.
Keberhasilan Persija Jakarta keluar sebagai juara Piala Presiden 2018 tak lepas dari permainan Riko Simanjuntak. Bagaimana perasaan “Si Kancil” usai merebut gelar juara pertamanya?
Riko bergabung dengan Persija pada awal musim 2018 ini. Perannya pun langsung menjadi sentral karena kerap menjadi motor permainan tim asuhan Teco Cugurra tersebut.
Sayang, perayaan juara Persija terganggu oleh merangseknya The Jakmania, suporter Persija, ke dalam lapangan usai penyerahan piala.
Banyaknya suporter membuat Bambang Pamungkas harus rela kehilangan medali emasnya. VIVA pun sempat mendapat rekaman video usai kehilangan tersebut.
Keberhasilan Persija Jakarta memboyong trofi Piala Presiden 2018 disambut gegap gempita oleh publik Ibu Kota. Puasa gelar juara selama 17 tahun akhirnya dituntaskan pada ajang pramusim tersebut.
Dan imbas dari sukses Macan Kemayoran itu tak lain adalah larisnya penjualan jersey dan sejumlah atribut khas skuat kebanggaan The Jakmania itu. Para penjual pun ketiban rezeki yang terbilang lumayan dalam momen tersebut.