Medan, JournalisNews.com – Kepedulian terhadap masyarakat kecil tidak boleh berhenti pada kata-kata, seremoni, maupun slogan. Kepedulian harus bergerak menjadi tindakan nyata dan menghadirkan manfaat yang benar-benar dapat dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.
Pesan itulah yang ditegaskan Komunitas Indonesia Semua Suku (KISS) bersama Bankom Karimata, Yayasan Harmoni Cinta Indonesia (HATI), dan DPP TKN Kompas Nusantara melalui kegiatan sosial berupa penyaluran bantuan beras kepada para lanjut usia (lansia).
Kegiatan tersebut berlangsung di Sekretariat KISS, Jalan Suasa, dahulu Jalan Gandhi No. 184, Medan, Minggu (4/10/2026).
Bantuan beras diserahkan secara langsung oleh pengurus dan relawan kepada para lansia yang sebelumnya telah terdata sebagai penerima. Kegiatan sosial tersebut turut didukung oleh donatur, Huang Siau Ing, yang memberikan perhatian dan dukungan terhadap pelaksanaan penyaluran bantuan bagi para lansia.
Kegiatan itu berlangsung sederhana, tetapi sarat makna. Tidak sekadar membagikan beras, para pengurus dan relawan juga hadir untuk menyapa, mendengarkan, serta membangun komunikasi dengan para lansia.
Mengusung semangat “Berbagi Beras, Berbagi Kebahagiaan”, kegiatan tersebut menjadi gambaran bahwa kepedulian sosial tidak harus menunggu sesuatu yang besar. Dari sebuah bantuan sederhana, dapat lahir rasa dihargai, rasa diperhatikan, dan keyakinan bahwa masih ada sesama yang peduli.
Kepedulian Tidak Boleh Berhenti sebagai Slogan
Ketua Umum KISS, Akiong, menegaskan bahwa organisasi yang tumbuh bersama masyarakat harus mampu memberikan manfaat nyata.
Menurutnya, keberadaan organisasi bukan semata-mata untuk menjalankan kegiatan internal, melainkan juga memiliki tanggung jawab moral untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan.
“KISS lahir dari semangat persaudaraan dan kebersamaan. Karena itu, keberadaan organisasi ini harus membawa manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Kami ingin terus hadir, khususnya bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan. Kepedulian tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata,” ujar Akiong.
Ia mengatakan, perhatian terhadap para lansia merupakan bagian dari penghormatan kepada orang-orang yang telah melewati perjalanan panjang kehidupan serta memberikan kontribusi bagi keluarga dan lingkungan di sekitarnya.
“Sudah menjadi kewajiban kita untuk menghormati dan memperhatikan mereka. Jangan pernah menunggu kaya untuk berbagi. Nilai sebuah kebaikan tidak diukur dari besar kecilnya bantuan, melainkan dari ketulusan hati,” tegasnya.
Akiong menambahkan, kegiatan sosial tidak seharusnya hanya dilakukan ketika ada momentum tertentu. Kepedulian harus menjadi kebiasaan dan gerakan bersama yang dilakukan secara berkelanjutan.
Baginya, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar pernyataan kepedulian. Masyarakat membutuhkan orang-orang yang mau turun langsung, melihat keadaan, mendengar keluhan, dan kemudian mengambil bagian sesuai kemampuan.
“Kalau kita ingin membangun masyarakat yang kuat, maka kepedulian harus dimulai dari hal-hal sederhana. Jangan melihat seberapa besar yang kita berikan. Lihatlah seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain,” ujarnya.
Bobby Lim: Kepedulian Harus Turun ke Lapangan
Penasehat KISS, Bobby Lim, menegaskan bahwa kepedulian sosial tidak boleh berhenti dalam bentuk ucapan, wacana, atau pernyataan di atas kertas.
Menurutnya, kehidupan masyarakat yang semakin kompleks justru menuntut setiap elemen masyarakat untuk semakin kuat menjaga rasa empati.
“Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, kita jangan sampai kehilangan rasa empati. Para lansia membutuhkan perhatian, bukan hanya dari keluarga, tetapi juga dari lingkungan sekitarnya,” kata Bobby.
Ia menegaskan, kegiatan bersama KISS, Bankom Karimata, Yayasan HATI, dan DPP TKN Kompas Nusantara bukan semata-mata berbicara mengenai jumlah beras yang dibagikan.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan bentuk kehadiran dan kepedulian langsung di tengah masyarakat.
“Kehadiran kita hari ini bukan sekadar menyerahkan bantuan beras. Kita ingin memastikan bahwa para lansia tetap merasakan kasih sayang, kebersamaan, dan perhatian dari sesama anak bangsa,” ujar Bobby.
Bobby menilai, persoalan sosial tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi berbagai elemen masyarakat, organisasi sosial, komunitas, serta kelompok kemasyarakatan.
Karena itu, menurutnya, kolaborasi seperti yang dilakukan KISS bersama Bankom Karimata, Yayasan HATI dan TKN Kompas Nusantara harus terus diperkuat.
Ia juga mengingatkan agar budaya gotong royong tidak terkikis oleh perubahan zaman.
“Budaya saling membantu harus terus diwariskan kepada generasi muda agar semangat gotong royong tidak hilang ditelan zaman,” tambahnya.
Bobby berharap kegiatan sosial tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan. Sebaliknya, gerakan sosial harus terus dikembangkan agar semakin banyak masyarakat yang dapat merasakan manfaatnya.(tim)
