Medan, JournalisNEWS.com . Bertempat di salah satu lokasi praktek dokter gigi di Jalan Kapten Mukhtar Basri no 7, Glugur Darat, Medan yang tidak jauh dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), awak media JournalisNEWS.com bersilaturrahmi dan berbincang dengan salah seorang dokter gigi bernama drg Syafrinani Sp.Pros., SubSp PKIKG (K) yang merupakan spesialis prostodonsia konsultan yang biasa disapa drg Nani.
Saat itu drg Nani didampingi asistennya drg Amira Pasha Saragih menceritakan pengalamannya dari awal dan hingga kini berprofesi sebagai dokter gigi spesialis dan juga sebagai dosen, adapun latar belakang pendidikannya di mulai saat berkuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara (FKG USU) pada tahun 1976 dan selesai tahun 1982 untuk mengambil sarjana (S1) bidang Kedokteran Gigi. Tahun 1983 bekerja di Departemen Prostodonsia FKG USU.
Lalu di tahun 1988 sampai tahun 1990 dirinya mendapatkan beasiswa untuk ikut program posgraduate di Universitas Gottingen Jerman, selama 2 tahun di Jerman drg Nani menuntut ilmu kedokteran gigi khususnya ilmu Prostodonsia, dirinya juga bekerja di klinik dan laboratorium, kemudian sampai di Indonesia lalu mengambil spesialis prostodonsia di FKG Universitas Pajajaran, Bandung dari tahun 1999 hingga tahun 2003.
Setelah mendapat gelar dokter gigi spesialis Prostodonsia yang artinya ilmu yang mempelajari metode rehabilitasi dan pemeliharaan fungsi rongga mulut,kenyamanan, penampilan dan kesehatan pasien dengan membuat restorasi gigi asli dan atau penggantian gigi yang hilang beserta jaringan lunak rongga mulut dan maksilofasial dengan bahan pengganti buatan. Selain membuat gigi tiruan spesialisasi ini dapat juga membuat mata tiruan, hidung ,telinga serta wajah tiruan.
Banyak pasien yang sudah ditangani drg Nani dan sangat beragam, namun kebanyakan pasien datang untuk pembuatan gigi tiruan, rahang yang sudah dioperasi , misalnya rahangnya sudah ada tumor jadi dioperasi, terbentuk lubang, rahang atas kalau habis operasi berlubang, disitu dapat dibuatkan gigi tiruannya untuk menutup lobangnya, masih banyak lagi jenis – jenis gigi tiruan lainnya
Syafrinani juga bekerja sebagai staf pengajar atau dosen di Fakultas Kedokteran USU tahun 1983 dan diangkat menjadi PNS tahun 1985 sudah pensiun di Agustus tahun 2022. Namun dari pihak universitas masih memintanya tetap mengajar dari Fakultas Kedokteran Gigi USU, hingga saat ini, dirinya sudah berkiprah selama 40 tahun sebagai dosen dan menekuni profesinya sebagai dokter gigi.
Untuk konsultasi gigi, drg Nani paling cepat melakukannya10 menit dengan mekanisme cara kerjanya yaitu diperiksa bila perlu dironsen. Setelah melihat keadaan kasusnya, keadaan rongga mulut dan lainnya, baru bisa diputuskan melakukan perawatan atau tidak, masalah perawatannya lama atau tidaknya, tergantung dari kasus .
Banyak suka duka yang sudah dilaluinya selama menjadi dokter gigi. “Sukanya adalah pada saat menghadapi pasien – pasien dengan berbagai keluhan, lalu hasilnya memuaskan pasien, artinya pasien datang dengan keluhan, pulangnya sudah tidak ada keluhan, berhasil mengobati pasien, senangnya seperti itu,”ujar drg Syafrinani.
Sedangkan dukanya dalam menghadapi pasien – pasien dengan berbagai keluhan,” apabila pada saat kita menghadapi kesulitan pada waktu bekerja merawat pasien, ada pasien yang sifatnya menentukan solusinya, mereka tidak mau menerima, tidak cocok, padahal menurut rencana perawatannya menurut ilmu kedokteran gigi tidak seperti itu, namun demikian saya berusaha menerangkan dan menjelaskan”,ujarnya.
Harapan drg Syafrinani sebagai seorang dosen dan dokter gigi kedepannya kepada dokter gigi muda di masa yang akan datang, dokter dulu masih ada daya juangnya, tidak gampang menyerah, nah sekarang zamannya sudah elektronik (gadget), semua ada di tangan ,merasa gampang nanti saja belajarnya, apalagi pada saat pandemi tidak menyebabkan dokter tersebut langsung berhadapan dengan pasien, 70 % mahasiswa itu kurang membaca tentang ilmu pengetahuan. “Mudah- mudahan kedepannya para dokter muda ini dapat mengembangkan ilmunya melalui program spesialis atau strata 2,”ujar beliau mengakhiri. (Erni Wida Wati)
