30 C
Medan
Selasa, Mei 26, 2026
BerandaDaerahLangsa Kota Kecap Nyan Cap Jempol, Kini Maju Pesat

Langsa Kota Kecap Nyan Cap Jempol, Kini Maju Pesat

Date:

Berita Terkini

Pengedar Sabu dan Ganja di Tanjung Beringin Kembali Diringkus Polres Dairi

  Dairi, JournalisNEWS.com - Tim gabungan Sat Narkoba Polres Dairi...

Luncurkan Asuransi Parametrik untuk Lindungi Petani Kopi dari Risiko Iklim, Bupati Ingin Genjot Komunitas Pertanian Kopi Dairi

  Dairi, JournalisNEWS.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dairi meluncurkan Pilot...

 

Oleh: Adnan NS
Judul ini menggambarkan kebenaran makna dalam dua sudut pandang. Jika dipandang dalam segi kemajuannya, kebetulan kota ini sedang melaju pesat jika membandingkan dengan kondisi sebelum 2012 lalu. Sedangkan jika ditilik dari segi historisnya, kota ini masih memiliki pabrik kecap yang tetap beroperasi hingga kekinian.

Sementara pabrik limun (lemonade) di Jalan Nasional kota ini, sudah tidak kelihatan lagi.Produk ini sudah digilas habis oleh produk soft drink pabrikan Yahudi seperti Pepsi, seven up (7 UP) sprite dan sejenisnya.

Sebaliknya pabrik kecap dan terasi tetap lestari di kota ini.Kita boleh berbangga dengan kota yang satu ini. Boleh sebut “Nyan Cap” (ini cap) sebagai kebanggaan dan pujian untuk salah satu kota tua yang pernah berjaya tempo doeloe. Bukti kejayaan di kota ini masih terlihat puluhan gudang raksasa berkontruksi kayu dan batu serta semi permanen di mana-mana. Kalau bukan pernah berjaya di masa silam, tak mungkin gudang legendaris masih menjadi saksi bisu di situ?

Begitu juga tentang kecap?. Tentu, yang namanya “kecap ku tetap nomor satu”. Begitulah lazimnya selogan itu ditebarkan sang produser kecap di manapun berada. Angka nomor satu biasanya disimbolkan dengan cap jempol tangan. Mantap nomor satu?Berarti, maknanya tidak ada duanya, tidak ada tandingnya?

Andai anda pernah melintas di jalur pendakian puncak Bogor, Jawa Barat, pasti melihat reklame botol-botol raksasa di sepanjang jalan itu memperkenalkan kecap yang sangat digemari warga. Kini kota Langsa sudah meraih kejayaan kembali dalam bidang Smart City atau kota pintar untuk diwariskan bagi generasi melinial negeri ini.

Langsa adalah sebuah kota tua pada lintasan Banda Aceh-Medan yang bersolek memperindah ini.Akibat pengaruh urbanisasi, transmigrasi dan mobilisasi, kini angka demografinya sudah merangkak ke angka 185.971 jiwa. Awal kemerdekaan RI, Kota ini ditetapkan sebagai Ibukota kabupaten Aceh Timur. Kala itu kota ini belum berdiri sendiri, melainkan masih bergabung dengan Aceh Timur.Untuk beranjak menjadi wilayah berstatus Pemerintah Kota (Pemko)Langsa, harus menapak kaki lebih dulu pada jenjang Kota Administratif (Kotif).

Kotif yang dinakhodai Syarifuddin Latif dikukuhkan pertama sekali dengan bekal Peraturan Pemerintah (PP)No.64/1991. Masa itu Provinsi ini masih berstatus Daerah Istimewa Aceh(Dista Aceh). Jumlah Daerah Tingkat II/Dati II. (begitu istilah waktu itu), dengan jumlah delapan Kabupaten Dati II dan dua Kotamadya di negeri ini.

Kedelapan kabupaten dati II yang sudah duluan terbentuk di Aceh sebelum bergulirnya era reformasi, yaitu: Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Tengah, Aceh Timur, Aceh Barat, Aceh Selatan dan Aceh Tenggara.Sementara kotamadya dati II hanya dua, yakni Kotamadya TK II Banda Aceh dan Kotamadya TK II Sabang saja.

Akan halnya Pemerintah Kota Langsa baru sah berdiri sendiri, sejak 21 Juni 2001, seiring diterbitnya UU No.3/2001 oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur). Sesungguhnya jauh sebelum masa Pemerintahan Kolonial Belanda, kota ini memang sudah lebih dahulu berdiri pada masa nenek moyang kita. Hanya kala itu populeritasnya semata dikarenakan peran Pelabuhan Kuala Langsa, dengan pusat kota perdagangannya di Langsa lama.

Pelabuhan Kuala Langsa ini merupakan gerbang perdagangan dari dan keluar negeri, terutama dalam bidang impor ekspor antara daratan Aceh dengan Pulau Penang, Malaysia. Perdagangan masa jayanya Aceh itu dilakukan secara barter, namun kesohor ke seantero Nusantara dan dunia. Perhimpunan kantor dagang Aceh ikut bertengger di George Town, Pulau Penang, kini disebut kawasan Lebuh Acheh. Para pedagang Aceh secara person maupun yang terhimpun Atjeh Kongsi membangun pusat dagang di sana.PT Tawi & Sons sendiri di bawah pimpinan Wahi membuka cabangnya di Singapure.

Jauh sebelum masa itu kegiatan perdagangan antar negara sudah berlangsung. Buktinyanya pada tahun 1808 Teungku Sayed Husein saudagar besar asal IDI, Aceh Timur mendirikan tonggak sejarah berupa pembangun Masjid Acheh-Melayu.Semua bangunan monumental ini masih terpacak hingga kini di sana.

Ketika itu Penang dan Langsa ibarat Twin Sister(saudara kembar).Menggunungnya tumbukan buah Penang kering, kopra, karet dan lada serta lainnya di sana, maka orang lebih sering menyebut “Pulau Penang”. Kita tahu tidak ada luasan kebun pinang di pulau kecil ini. Begitu pun pulau Penang itu dianggap sangat strategis di jalur pelayaran Selat Melaka.Semua komoditi ini berasal dari Pelabuhan Lhokseumawe dan Kuala Langsa. Masa itu Belawan belum berjaya seperti sekarang.

Fungsi pulau di daratan Indo China ini pun otomatis menjadi pusat kegiatan re-ekspor barang dagangan ke India dan Timur Tengah. “Ya, seperti Singapure sekarang inilah, ungkang Teuku Badlisyah Saudagar asal Lhokseumawe suatu ketika kepada penulis.

Balik pada cerita Kota Langsa.Kota ini dulunya termasuk kota maju tidak saja dalam segi perdagangan eksport-import, tapi juga dalam segi kemajuan pendidikannya. Buktinya Prof. DR. Ibrahim Hasan dan Prof.DR.Abdullah Ali, Dr. Ir. Abdullah Puteh, juga M.Nasir Jamil dan Pangestu menimba ilmu dan lainnya sempat mengecap SLTP dan SLTA nya di Kota kecap dan kota terasi ini.

Kota ini acap disebut sebagai “kota kecap” dan “kota terasi”, sempat sijuek su’uem(panas-dingin) beberapa saat semasa berlangsung Daerah Operasi Militer(DOM)1989-1998.Bara panas (su’uem) di “kota arang bakau” ini kembali mendidih masa nobatkan sebagai Darurat Militer (Darmil) dan Darurat Spil(Darpil) 2003-2005, ikut mendera kota ini lagi.Masa itu Kilauan mesiu, aksi bom-boman, bakar membakar sering membahana.

Julukan kota kecap atau pun kota terasi dari segi eksistensinya masih dipertahankan hingga saat ini.Di mana kita tahu pabrikan besar kopi di Langkahan bubar, korek api, kawat duri dan paku di Cot Gapu, Bireuen semua gulung tikar, pabrik tebu Cot Girek dipindah ke Kendari, Sulawesi Tenggara dan pabrik siroop Kurnia di Banda Aceh terpaksa hijrah ke Medan.Tapi, Alhamdulillah aroma kecap cap singa dan harumnya terasi masih masih mewarnai kota kecil ini.

“Alhamdulillah” tujuh tahun usai MoU Helsinki, pimpinan negeri pun ikut berganti, wujud kota ini mulai pun mulai apik, berseri dan sejuk kembali, lewat anyaman dua pasang jari jemari yang melakoni visi dan missi pasangan Usman Abdullah dan Marzuki Hamid, dalam branded politiknya disingkat “UMARA”.

Awal suksesinya, banyak pengamat dan politikus meragukan kemampuan pasangan Umara ini.Pengamat sosial-politik banyak tidak simpati atas kemenangan ini, apalagi berempat sama sekali tidak!. Kebanyakan mereka justeru berestimasi: Terpilihnya Usman Abdullah alias toke Su’uem (panas) akan meupaloe(gelisah) dan semua jadi galau melihatnya.Konon katanya? Asal indatunya berdarah Cot Campli keu’eueng(cabai pedas), Kota Baro, Aceh Besar, terkenal tukang berperang.Pasti style sepak terjangnya di Kota Langsa ini bakal kramkrum (porak-poranda) minimal berjalan (chep-chep) di tempat.

Ada yang membanding beberapa tokoh dalam memimpin banyak yang down.Mereka mentamsilkan dengan Bupati Aceh Selatan, Pidie, Aceh Utara dan Aceh Timur hanya berijazah Paket C. Kenyataannya semua melesat dan meleset? Orang boleh berestimasi, orang boleh berasumsi, fakta di lapangan tidak seperti hayalannya.Pada awalnya banyak orang “tak taroh”(bertaruh), apalagi lawan politiknya menyerang dari kiri-kanan, muka dan belakangnya, namun Usman mantan DPRA ini tidak bergeming.

Masa itu, dia sepertinya tetap memberikan hak demokrasi secara individualistis dalam beropini.Saya menyimak, sepertinya membiarkan setiap “gonggongan, namun kafilah tetap berlalu”.Dia sepertinya tak peduli dengan suara terompet yang memekik dan memekakkan telinga yang ditiup lawan politiknya.Bahkan suara semprotan media tak dihiraunya. Tidak difungsikan ruang udara konteran atau tangkisan, melainkan terus kerja dan berkerja.Wujud “bingkisannya” hasil kerjanya menjadi tontonan kasat matanya.Buah tangan hasil karya Umara, itulah jawaban untuk warga kota ini.

Siapa sangka kalau kota ini bisa “disulap” bagaikan malam menjadi siang.Kota dulu kumuh, lusuh. Anjungan lapangan merdeka hanya beberapa puluh meter dari “hidung” pendopo dijadikan tempat berjingkrak jengkrik para PSKnya .Kini Langsa menjadi kota yang gemerlapan, hiasan taman kota bertebaran, hutan kota, hutan mangrove hingga tower megahnya kini menjadi icon kota , paling spektakuler berwujud monomentalnya.

Semua objek ini menjadi daya tarik dunia pariwisata, andai anda singgah di sini.Alalagi ikut menyempatkan diri mengelililingi eks kota dagang internasional masa lampau yang mengharumkan nama Aceh. “Dulu Engkau boleh dicaci maki, kini dan esok Engkau akan dipuja dan dipuji”. Hasil karya nyata sudah membuah hasil.Konsekwensi positif dalam bentuk reward kerjanya tak bisa dipungkiri siapa pun.Lemari di ruangnya penuh trophy dan penghargaan tingkat nasional pun terus menghiasi.Tak mungkin harus ditulis semua, kecuali beberapa jenis saja.

Dalam kiprah Umaranya, pada sudut ruangan nya terlihat onggokan predikat.Di antaranya sewindu predikat WTP sebagai indikator tertibnya penggunaan financial dalam hitungan tahunannya. Di situ juga terlihat terlihat The Fifty Smart City Nasional, Anugerah Pesona Indonesia (API), Kota Layak Anak, Mangrove Forest Park berkategori wisata terpopuler, Ekowisata, Ekonomi Kreatif dan dan penghargaan Adipura.Tidak itu saja, masih dua lusinan award dan reward lainnya berhasil digondolnya si Toke Su-uem ini.

Begitupun, masih ada urusan satu lagi, sangat mencolok mata memandangnya.Apa iu? Tidak lain kecuali lintasan gerombolan sang sapi di Langsa Smart City masih belum kunjung teratasi. Semoga hal yang satu ini menjadi “PR”, si penggati wali Umara. Saya haqqul yaqin, Insya Allah, PJ pengganti ini pasti menanggapinya, jika ingin tidak menjadi cermin buruk buat Si Smart City.

Satu bukti telah ditunjuki, PJ Walikota ini Said Mahdum Madjid, meneruskan MoU dengan Badan Siber Sandi Negara (BSSN) pada Rabu 08 Februari 2023. Dengan penandatangan ini berarti PJ Wali Mahdum membuktikan diri menyetujui kelanjutan pemantapan program Smart City, untuk kota terasi ini.

“Kita harus meneruskan program Smart City ini untuk mempertahankan predikat kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi di era digitalusasi dalam segala hal dan operasionalnya. Banyak kemudahan dalam memberikan pelayanan tata pemerintahan dan sistem administrasi yang langsung kelak dirasakan warga kota ini”, sebutnya kepada penulis menjelang penandatanganan kesepahaman dan kesepakatan tentang tanda tangan digital ini, waktu itu.

Didampingi M.Husin Kadis Kominfo dan dr Helmi Dp.OG, Said Mahdum Majid PJ.Walikota ini menjelaskan, pilot projek program penandatangan digital ini sebagai pelaksananya ditunjuk pihak RSUD Langsa. Dengan sistim ini urainya lagi, masyarakat tidak perlu antrian untuk mendaftar jika hendak mendapatkan pelayanan kesehatan hingga pola pengambilan obat serta lainnya.

Selama ini lanjut Husin, Pemko Langsa sudah berkali-kali mendapat kunjungan studi banding dari beberapa kabupaten kota, baik dari unsur legislatif maupun unsur pemerintahnya.”Ini tidak lain katanya, berkat keberhasilan pemko ini menerapkan sistim digitalisasi dalam bidang informasi, pendataan dan administrasinya sejak dua tahun lalu”, katanya.

Menurut Husin, secara Antropologis dan Sosiologi penduduk kota ini sangat beragam. Keheterogenannya tentu didominasi etnis lokal(Aceh), menyusul etnis Melayu, Jawa, sub etnis Gayo, minang, Arab, Mandailing, Batak, sub etnis Alas, India dan China. Pertumbuhan penduduk kota ini katanya, setiap tahun mencapai rata-rata 2,17 persen. Sebagai simbol kota heterogen di kota ini terdapat 62 unit masjid, 120 musalla, satu gereja dan Satu Wihara.

Dua Perguruan Tinggi Negeri, Universitas Samudra (Unsam) dan Institut Agama Islam Negeri, telah ikut meramaikan kota ini dengan suasana muda mudi dari berbagai penjuru daerah termasuk dari Papua.Secara tidak langsung kehadiran mereka ini telah ikut memberi warga kota ini sebagai kota berperadaban yang madani

Dalam memasarkan produk terasi home industri dan kuliner lainnya, diterapkan distim teknologi komunikasi secara online kini sangat digemari warga. Untuk mempertahankan Smart Citynya, terutama dalam meningkatkan pelayanan dalam penanganan birokratisasi kepada masyarakat, pemko ini memberlakukan Sistem Pemerintah Berbasisi Elektronik (SPBE).

Pengadaan dan pembelajaran sistim Smart City ini merupakan kebutuhan sesuai undang-undang nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Katanya, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sejak 2017 telah mencanangkan program gerakan menuju 100 Smart City Kota Langsa.

Kota Langsa berkomitmen untuk mewujudkan nilai-nilai islami dalam seluruh tatanan pemerintahan dan aspek kehidupan masyarakat perkotaan.Artinya konsep pembangunan Smart City Kota Langsa beradaptif terhadap kearifan lokal. Untuk itu sangat diharapkan unsur aparatur Pemerintahan Kota, stakeholder beserta segenap lapisan masyarakat mampu menjalankan konsep Smart City tersebut.Tentu dalam hal ini harus mempertimbangkan potensi, infrastruktur, sumber daya manusia, serta permasalahannya, agar program dicanangkan ini berkesinambungan hendaknya.

Kota ini sekarang ini juga dikenal sebagai pusat pelayanan pendidikan dan pusat keagamaan. Untuk itu dalam proses pembangunan “Langsa Smart City”, kota siap melakukan berbagai persiapan RX dan analisis. Kesiapan Smart City Kota Langsa telah melihat kapasitas dan kapabilitas kota dalam mengimplementasikan setiap program pembangunan Smart Citynya.

Kata dia, ada tiga hal utama yang akan menjadi kajian dalam proses ini yakni kesiapan struktur, infrastruktur dan suprastruktur. Adapun tujuan analisis struktur kota ini dilakukan untuk mengetahui kondisi riil unsur yang mana saja diperlukan menjadi penggerak dalam pembangunan kota. Kesiapan infrastruktur dimaksudkan tambah Husin, guna memberi gambaran dan ukuran kondisi sarana dan prasarana fisik yang menjadi titik tolak dalam pembangunan Smart City daerah.

Sedangkan kajian kesiapan suprastruktur dilakukan guna penyiapan kebijakan atau Peraturan Kota Langsa, kelembagaan, dan tata laksana pelaksanaan pembangunan Smart City yang telah mendapat 50 besar secara nasional. Enam dimensi dalam sistem pembangunan Smart City yaitu, Smart Governance, Smart Branding, Smart Economy, Smart Living, Smart Society, dan Smart Environment. Semua dimensi tersebut adalah pendekatan terhadap tata kelola yang terhubung langsung dengan isue-isue strategis dalam tatanan pemerintahan dan masyarakat perkotaan. terwujud visi Smart City Kota Langsa: “Menjadi Kota Jasa Cerdas yang berperadaban Madani”.

Perencanaan dan pengembangan Smart City Kota Langsa dengan pendekatan enam dimensi dituang dalam penyusunan Master Plan secara adaptif, sistematis, efektif, efisien, logis, kondisional, partisipatif dan realistis dengan kebutuhan daerah untuk jangka pendek, menengah dan panjang. mewujudkan Kota Langsa yang bersih, efektif, transparan, dan akuntabel dengan tingkat pelayanan publik yang berkualitas dan terpercaya. serta kualitas kehidupan seluruh komponen masyarakat akan meningkat lebih baik kedepan, berperadaban Madani adalah entity Kota Langsa sebagai jati diri, harga diri, dan budaya masyarakatnya berlandasan Syariat Islam. (*)

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Berita Daerah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

reisx.com reisx.com deneme1 canimx deneme1